Berita & Informasi

Bedah Disertasi Abdul Rahman: Menanamkan Moderasi Beragama di Pesantren melalui Strategi dan Pola Internalisasi Pendidikan Islam di Cirebon

BEDAH DISERTASI DOKTOR PASCASARJANA UIN SIBER SYEKH NURJATI CIREBON

Bedah Disertasi Abdul Rahman: Menanamkan Moderasi Beragama di Pesantren melalui Strategi dan Pola Internalisasi Pendidikan Islam di Cirebon

Cirebon, 2 Oktober 2026 — Bagaimanakah pendidikan Islam dapat membentuk generasi yang religius sekaligus mampu menghargai perbedaan? Pertanyaan tersebut menjadi fokus utama dalam riset disertasi Abdul Rahman, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
▣ 16 September 2026
|
● Pascasarjana UIN Siber
|
⌖ Cirebon
mceu_89448972421790905030139.png

Melalui penelitian berjudul “Menanamkan Moderasi Beragama di Pesantren: Strategi dan Pola Internalisasi Pendidikan Islam di Cirebon”, Abdul Rahman mengkaji bagaimana nilai-nilai moderasi beragama ditanamkan dalam pendidikan berbasis pesantren. Penelitian ini menjadi sangat relevan di tengah tantangan intoleransi dan derasnya arus informasi digital yang dapat memengaruhi cara generasi muda memahami agama dan kehidupan sosial.

Bukan Sekadar Mengajarkan, tetapi Membiasakan

Moderasi beragama dalam penelitian ini tidak dipahami sebatas pengetahuan yang harus dihafalkan siswa, melainkan ditanamkan melalui proses pendidikan yang berlangsung secara terus-menerus. Empat indikator utama moderasi beragama menjadi landasan dalam penelitian ini, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta sikap akomodatif terhadap budaya lokal.

Nilai-nilai tersebut kemudian diwujudkan dalam kehidupan pendidikan melalui sikap tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i'tidal (adil), tasamuh (toleran), dan syura (musyawarah). Dengan demikian, siswa tidak hanya mengetahui apa arti toleransi, tetapi juga belajar mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tiga Tahap Menanamkan Nilai

Penelitian Abdul Rahman menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai berlangsung secara bertahap:

  • Transformasi Nilai: Guru menyampaikan pengetahuan mengenai nilai-nilai moderasi beragama melalui pembelajaran di kelas.
  • Transaksi Nilai: Siswa mulai berinteraksi secara aktif melalui diskusi, dialog, studi kasus, pembiasaan, dan keteladanan guru.
  • Transinternalisasi Nilai: Pada tahap ini, nilai yang dipelajari tidak lagi hanya menjadi pengetahuan, tetapi mulai melekat dalam sikap dan karakter siswa.

Artinya, keberhasilan pendidikan moderasi beragama tidak cukup diukur dari seberapa banyak siswa memahami teori, tetapi juga dari bagaimana nilai tersebut tercermin dalam perilaku mereka.

Dua Model Pesantren, Satu Tujuan Pendidikan

Penelitian ini menarik karena membandingkan dua model sekolah berbasis pesantren di Kabupaten Cirebon dengan karakteristik yang berbeda:

Di SMK Mekanika Buntet Pesantren, hubungan sekolah dan pesantren tidak menggunakan sistem satu atap. Siswa memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari santri mukim, santri kalong, hingga siswa non-santri. Internalisasi nilai moderasi dilakukan melalui pembelajaran PAI yang diperkuat dengan materi kepesantrenan (Aswaja, Fiqih Ibadah, dan BTQ), serta pembiasaan adab dan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun).

Sementara itu, SMA IT Akmala Sabila menerapkan model boarding school. Seluruh siswa tinggal di lingkungan pesantren sehingga proses pendidikan berlangsung lebih intensif melalui tahfidz Al-Qur'an, pengajian kitab kuning, pembiasaan ibadah, serta pendampingan guru dan musyrif.

Ketika Nilai Berubah Menjadi Karakter

Hal yang menarik dari penelitian ini adalah dampak internalisasi nilai terhadap pembentukan karakter siswa:

  • Pengetahuan: Siswa tidak hanya memahami ajaran agama secara normatif, tetapi mulai melihatnya secara lebih kontekstual dan terbuka.
  • Sikap: Muncul empati sosial, kepedulian terhadap sesama, komitmen terhadap persatuan, dan penghargaan terhadap perbedaan.
  • Perilaku: Terlihat dalam kehidupan sehari-hari melalui kedisiplinan beribadah, kesantunan dalam berkomunikasi, kebiasaan bermusyawarah, serta penolakan terhadap perundungan dan kekerasan.
“Pendidikan moderasi beragama tidak cukup jika hanya dibebankan kepada satu mata pelajaran. Keberhasilannya membutuhkan ekosistem pendidikan yang terintegrasi: kurikulum memberikan pengetahuan, lingkungan pesantren membentuk kebiasaan, sementara guru dan pendidik memberikan keteladanan.”

Penelitian Abdul Rahman pada akhirnya menunjukkan bahwa pesantren dan sekolah memiliki ruang yang besar untuk membentuk generasi yang religius, mampu menghargai perbedaan, menolak kekerasan, serta memiliki kesadaran kebangsaan. Bagi dunia pendidikan Islam, temuan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang dipelajari di dalam kelas, tetapi juga tentang nilai yang dibiasakan dan keteladanan yang setiap hari dilihat oleh peserta didik.

Informasi Penelitian Disertasi

▣ Peneliti: Abdul Rahman
▣ Program Studi: Doktor Pendidikan Agama Islam (S3)
⌖ Institusi: UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
▣ Judul Disertasi: Menanamkan Moderasi Beragama di Pesantren: Strategi dan Pola Internalisasi Pendidikan Islam di Cirebon
● pascasarjana.uinssc.ac.id
✉ pascasarjana@uinssc.ac.id
f Instagram
▶ YouTube
Bagikan Artikel:
Info Prodi Assistant
👋 Halo! Saya asisten info Program Studi. Silakan tanya seputar:
• Informasi pendaftaran
• Kurikulum & mata kuliah
• Profil dosen
• Kegiatan & agenda
• Kontak prodi
Aksesibilitas